Home, Life

Profil | Mengenal Casey Neistat: Passion, Penceritaan, dan Memenangkan Audiens

infiltran casey neistat

Casey Neistat, salah satu sosok paling berpengaruh di YouTube, justru tidak pernah menyukai proses pembuatan sebuah film. Dia tidak menyukai aspek-aspek teknis yang harus dilalui, dia tidak menyukai hal-hal formal yang harus dilakukan. Artinya, Casey bukanlah seorang filmmaker yang mau mengikuti arus mainstream turun-menurun dalam proses pembuatan film. Seluruh portofolionya dibuat berdasarkan improvisasi seorang Casey. Maka tidak heran, di YouTube—saat ini merupakan saluran utama yang Casey gunakan untuk meluncurkan setiap eksperimennya—sampai muncul istilah Casey Neistat’s Style.

Pada dasarnya, Casey senang membagikan cerita. Casey menyebut medium paling ideal untuk melakukannya adalah lewat film. Dia merasa bahwa ketika menyampaikan kisah melalui film, akan lebih banyak orang yang bisa dijangkau. Pada akhirnya, hal ini dilakukan Casey semata-mata agar seluruh kronologi pengisahan, baik itu cerita, komunikasi tentang hal-hal penting, maupun karya film lain, tidak hanya berhenti pada dirinya.

Kisah masa lalu mendewasakan Casey

Memutar balik permainan waktu, Casey bukan berasal dari keluarga yang berekonomi menengah ke atas—jangan langsung dibandingkan dengan kondisinya sekarang, terutama pasca menilik studio pribadi yang super komplit serta perusaahaan start-up barunya, Beme. Dia hadir dari sebuah keluarga yang memiliki latar belakang sangat sederhana. Ayah Casey adalah seorang salesman yang mengurusi suplai bahan makanan untuk sebuah restoran. Sesuai dengan budaya remaja Amerika, Casey pun memutuskan meninggalkan rumah untuk hidup mandiri—bahkan ketika usianya masih terlalu muda. Apalagi ketika kemudian dia secara tidak terduga harus menerima tanggung jawab tambahan menjadi seorang ayah saat usianya baru 16 tahun. Dia membiayai kehidupan awal sebagai seorang yang mandiri bersama bayi laki-lakinya, Owen, dengan bekerja sebagai seorang pencuci piring.

Hingga akhirnya, pada usia 18 tahun Casey remaja memutuskan untuk membuat film. Setelah menetapkan niatannya itu, dia melakukan pekerjaannya sebagai seorang pencuci piring dengan satu aspirasi: membeli komputer yang bisa dipakai untuk melakukan editing video. Selain itu, dia juga melakukan pekerjaan lain sebagai pembersih kandang anak kucing untuk bosnya. Uang dari pekerjaan itu dia kumpulkan guna membeli kamera supaya bisa segera membuat film.

Casey selalu butuh usaha keras supaya bisa membuat film. Satu prinsip yang selalu dipegang Casey adalah dia tidak pernah membuat film untuk membuatnya hidup mapan. Dan hal itulah yang dia anggap menjadi kesalahan terbesar yang banyak dilakukan oleh para pemain baru, terutama generasi muda. Mereka seringkali langsung berfokus bagaimana caranya supaya passion yang dimiliki bisa menghasilkan uang. Casey menekankan bahwa itu adalah posisi terburuk untuk memulai.

BACA JUGA  Insight | Apa Itu Alpha Female? Dan Mengapa Bisa "Breaking One Stereotype at a Time"?

Apabila para remaja dari permulaan telah melakukan segala hal kreatif dengan motif supaya menguntungkan secara finansial, maka langkah perdana yang diambil itu sudah salah. Semestinya, mereka melakukan hal-hal kreatif itu murni atas dasar passion, sesuatu yang benar-benar dipercayai sejak awal. Di mana segala hal lain akan ikut bermuara di situ dengan sendirinya.

Cerita jauh lebih penting dibanding teknis

Banyak yang beranggapan bahwa ketika seseorang ingin mendalami filmmaking, ia harus masuk ke sekolah film supaya karir ke depannya sukses. Namun sebenarnya, dengan kondisi saat ini, ketika akses kepada berbagai jenis kamera menjadi sangat mudah, Casey mengatakan bahwa cukup dengan modal kamera saku, kamu bisa langsung menjadi seorang pembuat film handal.

Casey dalam salah satu daily vlog-nya yang bertajuk Casey Neistat’s Guide to Filmmaking menegaskan bahwa dalam proses pembuatan film versinya, peralatan canggih tidak selalu menentukan kualitas film yang dihasilkan. Casey saat ini telah memiliki berbagai jenis kamera yang biasa digunakan untuk menghasilkan karya audio visual. Dia pun mempunyai piranti yang sangat mahal, semacam Canon 70D maupun Canon 5D Mark III. Namun, perjalanan sukses Casey menjadi seorang pembuat film sekaligus YouTuber berangkat berkat peralatan murah yang menjadi titik baliknya ketika masih remaja.

Dari video Casey Neistat’s Guide to Filmmaking juga, dia menunjukkan peralatan apa saja—terutama kamera—yang dia gunakan sejak awal karir. Bahkan, salah satu video paling terkenal yang pernah dibuat Casey, “Bike Lanes”, justru hanya direkam melalui kamera saku Canon Powershot 300 HS. Kalau ditilik dari segi harga, kamera ini bisa ditebus dengan harga sekira US$90. Di perjalanan karirnya sebagai seorang filmmaker alternatif, Casey telah mencoba berbagai jenis kamera. Bahkan, kamera-kamera favorit yang digunakannya selama ini kebanyakan memiliki rentang harga yang masih terjangkau.

Hingga saat ini, hal yang paling ditekankan oleh Casey dalam setiap daily vlog-nya adalah story is everything. Tidak ada formula khusus dalam mengisahkan sebuah cerita. Jika kamu mampu menyampaikan sebuah cerita yang sangat bagus via video, penonton akan memaafkan celah di aspek teknis dan tidak akan mempermasalahkan kualitas video yang ada.

BACA JUGA  Insight | The Coordinated Management of Meaning (CMM) Theory

Iklan tidak pernah semenyenangkan ini

Bertahun-tahun yang lalu sebelum menjadi fenomena YouTube, Casey yang drop-out dari SMA dan tidak sengaja menjadi seorang ayah ketika masih berusia 16 tahun, tidak memiliki bayangan tentang karir apa yang akan dikejarnya. Namun hal itu berbalik arah secara drastis sekarang ini, Casey adalah pria berusia 34 tahun yang menjadi sensasi di YouTube. Dia juga membantu banyak brand besar dalam menemukan formula baru untuk membuat iklan di internet.

Casey mengakui bahwa dia bukanlah orang yang menyukai iklan. Dalam sebuah panel diskusi di Northside Innovation Festival in Brooklyn, New York beberapa waktu yang lalu, Casey mengatakan bahwa dirinya benar-benar membenci iklan. Dia mencontohkan, misalkan seseorang mengunjungi saluran YouTube-nya dan ingin menonton video baru yang ada di situ namun ternyata tontonan tersebut merupakan iklan komersial sebuah mobil yang dikemas secara buruk. Dia tidak akan menyukainya.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, ketika Casey Neistat diminta untuk memproduksi sebuah iklan, dia tidak akan membuatnya nampak seperti iklan, sama sekali. Dan justru langkah itu mampu menaikkan oplah penjualan produk yang diiklankan secara signifikan. Casey paham betul apa yang brand inginkan, namun dia juga paham iklan apa yang disukai oleh para milenial. Maka, formula story is everything yang sering dia ungkapkan tidak pernah kadaluarsa. Casey selalu mampu bercerita dengan caraya sendiri, dengan menggabungkan unsur petualangan dan otentisitas yang ternyata berbuah keberhasilan.

Misalnya, ketika Nike ingin meningkatkan penjualan alat penjejak aktivitas atletik ber-tagline #makeitcount. Casey lalu membuat proyek yang dia videokan. Alih-alih membuat iklan konvensional yang Nike inginkan, Casey malah menghabiskan uang dari Nike untuk berkeliling dunia bersama temannya, Max. Saat ini, video tersebut telah diunggah dengan judul “Make It Count”, dan sukses masuk ke dalam jajaran dua besar video paling banyak ditonton di saluran YouTube-nya dengan lebih dari 16 juta kali penayangan.

BACA JUGA  Positive Mind | Apa Itu Cinta? Belajar Cinta dan Nostalgia dari Seorang Casey Neistat

Langkah Casey hingga akhirnya mampu membuat Nike tertarik bukanlah perkara singkat. Sejak jauh-jauh hari dia telah mencicil reputasinya dengan terus melakukan hal-hal kreatif itu murni atas dasar passion. Ketika kualitas karya kreatif bisa terjaga, maka keuntungan lain akan datang dengan sendirinya. Bahkan Casey menunjukkan, meskipun mendapatkan keuntungan finansial, dia tetap melakukan layaknya keseharian.

Kembali menilik rekam jejak, Casey sukses membuat rekor pertamanya pada 2003. Saat itu, dia membuat video yang menunjukkan bahwa baterai Apple bermasalah. Video tersebut menjadi viral. Lima tahun kemudian, dia berhasil menjual serial TV autobiografinya bertajuk “The Neistat Brothers” kepada HBO dengan nilai US$2 juta. Sejak saat itulah Casey rutin ikut membuat video di YouTube yang saat ini salurannya telah memiliki lebih dari 1,4 juta pelanggan.

Hal yang Casey anggap saat ini menjadi masalah bukan lagi meyakinkan perusahaan bahwa dia harus mampu mengisahkan mereka. Namun justru bagaimana meyakinkan dirinya dan para audiensnya bahwa cerita tentang sebuah brand layak untuk dikisahkan. Kegamangan itu muncul setiap kali dia harus membuat video tentang sebuah brand. Casey beranggapan bahwa kepercayaan yang telah dia bangun dengan audiens di salurannya menjadi taruhan. Jika dia gagal mempertahankan kepercayaan audiens, dia sadar betul bahwa itu adalah game over baginya.  

Beruntung, hingga saat ini Casey masih memegang trofi kemenangan dari audiens. Hal itu tidak terlepas dari fakta bahwa dirinya selalu mencoba transparan kepada audiens dengan cara rutin mengisahkan kesehariannya melalui daily vlog di YouTube. Selain itu, setiap kali Casey memperoleh pendanaan dari perusahaan yang berminat menjadi sponsor, dia langsung mengungkapkannya kepada para penontonnya. Pun, Casey hanya mau bekerja untuk brand yang bersedia memberikan ruang kebebasan kreativitas untuk menciptakan proyek video versinya sendiri, tanpa campur tangan sponsor.

(Visited 1,858 times, 1 visits today)

Insight | Apa Itu Alpha Female? Dan Mengapa Bisa "Breaking One Stereotype at a Time"?
Insight | Kehidupan Orang Dewasa Tidak Semenarik Imajinasi Anak Kecil, Cerita Menyenangkan dari Jonah Green

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *