Home, Lens

Insight | Apa Itu Alpha Female? Dan Mengapa Bisa “Breaking One Stereotype at a Time”?

alpha female infiltrancom

“Gimana sih! Kamu itu perempuan, jangan potong rambut kayak laki-laki!”

“Ih, dia kan cantik, tapi kok malah jadi teknisi sih?”

“Jadi cewek jangan terlalu pinter, nanti susah cari suami lho!”

Di era modern ini, anggapan yang menggeneralisasi bahwa perempuan itu harus begini dan tidak boleh begitu sudah ketinggalan zaman. Masyarakat-masyarakat yang lebih terbuka secara kultural telah menerima perempuan sebagai pribadi yang setara dengan laki-laki.

Perempuan pahlawan di dunia fiksi

Industri media di Amerika Serikat selangkah lebih awal dalam menyadari keberadaan para femme fatale ketika DC dan Marvel memunculkan tokoh Wonderwoman alias Diana Prince (1931) dan Black Widow alias Natasha Romanoff (1964). Cantik, cerdas, tangguh dan berbahaya; kedua tokoh ini mendulang kesuksesan tinggi dan masih eksis hingga saat ini.

Pada 2013, Marvel memperkenalkan Kamala Khan, tokoh berdarah Amerika-Pakistan yang merupakan superheroine beragama Islam yang pertama. Muncul juga pop culture heroines lain yang diceritakan tidak memiliki kekuatan super seperti Hermione Granger (Harry Potter) dan Katniss Everdeen (The Hunger Games)—namun tetap memiliki karakteristik sebagai perempuan yang “berbahaya.”

Di Indonesia, syuting film yang berkisah mengenai superheroine lokal pertama Indonesia—Valentine—tengah dalam proses akhir produksi dan rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2015.

Munculnya tokoh-tokoh perempuan super dalam dunia fiksi yang diterima secara luas mengindikasikan penerimaan masyarakat terhadap sosok-sosok perempuan yang tangguh dan mandiri, a sigh of relief for our modern world.

Perempuan pahlawan di dunia nyata

Berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini kita memiliki banyak sosok perempuan hebat yang berperan besar dalam masyarakat. Sebut saja Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia saat ini. Lalu Malala Yousafzai, pemenang termuda Nobel perdamaian. Juga Amal Amaluddin Clooney, istri George Clooney yang merupakan pengacara, aktivis HAM dan penasihat Kofi Annan ketika menangani konflik Suriah bersama PBB.

BACA JUGA  How To | 11 Kegiatan Kreatif agar Selalu Produktif, Belajar dari Kehidupan Mahasiswa Universitas Cambridge UK

Perempuan-perempuan ini merupakan contoh dari modern superheroines atau “alpha females.Para alpha females ini tidak tunduk pada steriotip masyarakat dan tidak memanfaatkan privilege mereka sebagai perempuan. Mereka kuat, cerdas, mandiri dan mampu memperjuangkan dirinya sendiri. Brace yourself, boys—the girls are coming your way.

Menjadi seorang alpha female bukanlah perkara mudah, apalagi di masyarakat yang masih menganut budaya patriarki. Dalam masyarakat-masyarakat tertentu, perempuan masih ditempatkan sederajat lebih rendah dibanding laki-laki. Mereka dipandang sebagai “penjaga rumah” semata—yang tidak berhak atas pendidikan yang tinggi.

Perempuan yang telah terliterasi gender harus berjuang keras untuk mematahkan steriotip tersebut. Lihat saja Malala Yousafzai yang sempat ditembak oleh Taliban ketika memperjuangkan pendidikan bagi para wanita Pakistan. Beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah-daerah urban telah menerima gagasan mengenai kesetaraan gender—walau belum secara sempurna.

Berwawasan luas adalah syarat mutlak bagi seorang alpha female. Selain itu, keberanian untuk stand up for your own rights adalah keharusan lain. Maka, para alpha females tidak takut pada anggapan bahwa “perempuan yang terlalu pintar akan susah mendapatkan jodoh” dan berjuang untuk pendidikan yang setinggi-tingginya.

Walau mensyaratkan kecerdasan, para alpha females tidak hanya terbatas bagi kaum berpendidikan, lho. Sebab, kecerdasan dan keberanian bukanlah sesuatu yang bisa diraih dari sistem pendidikan formal saja.

Coba lihat Susi Pudjiastuti, seorang alpha female yang tidak lulus SMA. Ia tidak memiliki gelar akademis namun outspoken and fierce—climbing her way on top hingga menduduki posisi penting dalam pemerintahan Indonesia. Walau urakan dan kasual, ia juga bisa tampil cantik dan bersahaja.

Perempuan-perempuan inspiratif seperti inilah yang mampu mengubah dunia dan tidak hanya menunggu prince charming untuk datang saja. Tujuan mereka satu: at the end of the day, girls may become their own heroes.

Profil | Mengenal Troye Sivan, dari YouTube ke Ikon Baru Budaya Populer
Profil | Mengenal Casey Neistat: Passion, Penceritaan, dan Memenangkan Audiens

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *