Home, Life

Profil | Mengenal Troye Sivan, dari YouTube ke Ikon Baru Budaya Populer

troye sivan infiltrancom

Tiga tahun belakangan ini menjadi menjadi tonggak perjalanan hidup yang gila bagi seorang Troye Sivan. Dari seorang anak yang pada awalnya sering membuat video YouTube dari rumah, hingga menjadi penyanyi pendatang baru paling menjanjikan.

Troye mengatakan bahwa orang-orang di label rekamannya, A&R, baru menyaksikan dia perform secara live beberapa pekan yang lalu. Meskipun Troye telah menandatangani kontrak sejak 2013. Dia mengatakan bahwa 15 atau 20 tahun yang lalu label rekaman akan mengamati dengan seksama penampilan live seorang penyanyi hingga paling tidak 30 kali sebelum akhirnya ditawari kontrak rekaman. Dengan kondisi saat ini, mekanismenya benar-benar berubah.

Bermula dari hal sederhana: cover ke vlog

Troye Sivan lahir di Johannesburg, Afrika Selatan. Kemudian dia pindah ke Australia bersama keluarganya ketika masih berusia dua tahun. Dia adalah contoh nyata tentang bagaimana seseorang bisa menjadi ikon global pada abad 21. Sebelumnya, Troye pernah ambil bagian dalam dunia akting di film X-Men Origins: Wolverine. Kemudian dia memperoleh peran utama di film trilogi Spud. Namun, YouTube-lah yang menjadi fondasi terkuatnya hingga bisa berada di posisi sekarang ini, sebagai internet sensation dan juga penyanyi.

Dengan sedikit usaha, kamu bakal menemukan Troye kecil yang melakukan cover lagu milik Justin Bieber dan Amy Winehouse. Saluran YouTube-nya memang di awal hanya mengakomodasi video Troye yang sedang menyanyi. Hal itu cukup menarik atensi penonton. Namun sebenarnya video blog (vlog)-lah yang berhasil membuat Troye sangat populer di YouTube. Sejak 2013 dia seolah banting stir dengan lebih banyak membuat vlog ketimbang video cover lagu. Vlog pendeknya merupakan bentuk ekspresi tentang budaya internet, fesyen, seks, hingga obsesi pada selebritas tertentu yang sering berakhir sebagai trend di kehidupan para remaja seusianya.

Vlog membuat seorang Troye Sivan menjadi sangat jujur dan percaya pada penontonnya. Vlog yang menjadi titikbaliknya, Coming Out, yang diunggah pada akhir 2013 hingga saat ini telah ditonton lebih dari enam juta kali. Dengan hanya duduk di depan kamera, dia secara perlahan bercerita tentang seksualitasnya. Troye mengatakan bahwa pada usia 14 tahun sempat memberitahu sahabatnya bahwa kemungkinan dia biseksual. Troye benar-benar dalam posisi gamang saat itu. Hingga beberapa bulan kemudian, dia memberitahu orangtuanya  bahwa dia gay. Di vlog itu juga, Troye berkata, “Rasanya aneh untuk melafalkan seksualitasku. Tetapi aku merasa bahwa kebanyakan dari kalian itu benar-benar nyata, temanku yang sebenarnya dan aku berbagi semuanya dengan internet.”

BACA JUGA  Profil | Mengenal Casey Neistat: Passion, Penceritaan, dan Memenangkan Audiens

Rumah Troye di Perth, kota yang hanya berpenduduk dua juta orang di barat garis pantai Australia, rasanya jauh dari pusat pop culture barat. Ketika semakin bertambah usia, dia berpikiran bahwa suatu hari perlu pindah tempat guna mengejar karier bermusiknya.  “Bagiku, Sydney terlihat sangat jauh,” ujarnya.

Namun ketika di video YouTube-nya mulai bermunculan komentar dari negara-negara lain di seluruh dunia, Troye sadar bahwa dia telah menjangkau setiap sudut dunia. Kepopulerannya secara online pada akhirnya membantu Troye untuk merilis EP (album mini)-nya yang bertajuk TRXYE (2014) dan WILD (2015). Keduanya secara mengejutkan berhasil bertengger di posisi lima US Billboard 200. Selain itu, nama-nama besar seperti Taylor Swift dan Sam Smith pun memuji materi lagu Troye.

Saat ini, Troye sering berpindah-pindah lokasi. Dari London, ke New York, kemudian ke Paris, dan kota-kota lainnya. Perbedaan utama antara kehidupannya sekarang dan dua tahun lalu adalah dia bisa bangun tidur di lebih banyak tempat dibanding yang pernah dia alami sebelumnya. “Segera setelah aku merasa lumayan bosan—‘oh ya aku harus berkemas untuk ke London’—aku seperti ingin menampar diri sendiri dengan agak keras dan menjadi seperti—‘hey dude, ini adalah hal tergila di dunia’.”

Beberapa waktu yang lalu, Troye sempat sakit selama empat hari. Efek dari kesibukannya yang sangat intens dalam melakukan tur luar negeri. “Aku telah berpindah dari New York ke London ke toko kecil penjual bahan makanan—di Perth… berjalan kaki bersama ayahku membeli cordial sehingga kami bisa menikmati cordial dingin di kolam renang. Di titik itu, aku merasa seperti kembali berumur 10 tahun.”

Makna mendalam “blue neighbourhood”

Perth adalah “blue neighbourhood”-nya. Frasa itulah yang kemudian dipakai Troye sebagai judul album perdana. Biru adalah warna nostalgia yang membuatnya merasa senang sekaligus sedih. Dia mengasosiasikan kotanya dengan cuaca yang hangat, pantai, keluarga, dan teman-temannya. Sehingga ketika sedang melakukan tur yang jauh dari Perth, kenangan itulah yang memicu emosi bittersweet.

Nostalgia semacam itu menjadi sangat umum terjadi di budaya anak muda saat ini. “Aku tidak pernah terpikir tentang hal itu sebelumnya. Kesannya mengerikan. Aku berharap aku bisa menikmati semuanya yang terjadi saat ini dan tidak harus mencoba membuatnya nampak vintage di Instagram.”

BACA JUGA  Insight | Aturan Standar Membuat Halaman Judul Laporan; Pakai Tips Ini Kamu Pasti Aman!

Jika Troye tetap di Perth, dia mengatakan bahwa dia akan merasa tercekik. “Aku mempunyai hubungan yang agak kompleks dengan tempat tinggalku di mana aku sungguh, sungguh terobsesi dengannya. Perth adalah surga. Tetapi di saat bersamaan, aku tahu bahwa aku bersyukur bisa hidup di mana aku bisa pergi dari rumah untuk dua pekan dan kemudian pergi lagi sebelum aku merasa kangen rumah.”

Di albumnya, Blue Neighbourhood, adanya intrik pun suara bisikan berkesan elektronik, yang menggambarkan kecintaan Troye terhadap musik hip-hop dan pop. Menunjukkan bahwa Troye terpengaruh dari Kanye West sampai Lily Allen. Namun dia secara aktif selalu menolak untuk mengikuti trend musik secara membabi-buta.

“Sekitar sepekan sebelum kami akan melakukan masterisasi dari album ini, aku di Amerika dan aku dengar The Weeknd diputar di radio berulang-kali yang membuat aku merasa, ‘sialan, aku butuh kembali dari awal dan mengacak semuanya dan kita butuh untuk merekam musik semacam itu’,” ujarnya. Tim manajemennya menyarankan supaya Troye tetap tenang dan menunggu untuk beberapa waktu. Troye melakukannya, dan dia menyadari bahwa dia tidak butuh terdengar seperti The Weeknd, dia hanya butuh terdengar seperti Troye Sivan.

Trilogi videoklip yang mengubah dunia

Di kuartal ketiga dan keempat 2015, Troye juga merilis videoklip triloginya. Dengan dilumuri warna indigo, trilogi ini berkisah tentang dua anak kecil yang berteman dan kemudian tumbuh menjadi sepasang kekasih di usia remaja, namun sayangnya harus terpisahkan karena masalah keluarga dan seksualitas. Troye mengatakan bahwa proyek ini muncul setelah dia menyaksikan film The Imitation Game (2014) yang dibintangi Benedict Cumberbatch. Film itu bercerita tentang seorang ahli matematika bernama Alan Turing, yang menyelamatkan nyawa jutaan manusia, namun harus diadili karena seksualitasnya.

BACA JUGA  Insight | Apa Itu Alpha Female? Dan Mengapa Bisa "Breaking One Stereotype at a Time"?

“Aku meninggalkan bioskop dengan sangat frustasi dan putus asa. Aku berpikir banyak tentang banyaknya nyawa yang sudah hilang dan potensi yang sudah disia-siakan karena bunuh diri yang dilakukan oleh LGBTIQ. Dan berapa banyak lagi kehilangan yang akan kita alami tiap hari, dan aku hanya ingin mencoba melakukan sesuatu tentang hal itu,” ungkap Troye.

“Jadi, tujuan utama (dari Blue Neighbourhood) adalah untuk berbicara tentang bunuh diri LGBTIQ. Tapi kemudian lewat video itu, ada banyak tujuan kecil lainnya,” ujar Troye.

Pada akhirnya, karier bermusik dan akting Troye Sivan memang ditetaskan dari YouTube. Sebagai seorang remaja yang berjuang dengan label seksualitasnya, internet menjadi tempat yang sangat penting dan tempat yang natural untuk mendeklarasikannya. “Kemudian aku seperti menyadari bahwa aku telah melakukan bypass terhadap segala rasa kejanggalan semacam ‘oh tidak, sekarang aku seorang penyanyi dan aku harus come out’—aku hadir ke dunia industri musik profesional sudah dalam posisi sebagai orang yang terbuka,” kata Troye.

“Selalu menjadi sangat berarti dan menyenangkan untuk bisa menulis apa pun yang ingin kutuliskan dan semoga hal itu juga bisa menginspirasi orang lain,” pungkas Troye.

(Visited 919 times, 1 visits today)

Positive Mind | Tentang John Green, Hank Green, dan Nerdfighters: Don’t Forget to Be Awesome
Insight | Apa Itu Alpha Female? Dan Mengapa Bisa "Breaking One Stereotype at a Time"?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *